Minggu, 08 April 2018


KEBANAN

Kemarin malam sekitar pukul 21.30 & gerimis saya keluar benteng Vredeburg mau ke Tamansiswa antar teman pulang. Saat di bangjo (lampu merah) nol KM & mau belok kiri tiba2 kayak kepleset. Trus turunlah kamo dr motor,  eh ternyata 'kebanan'  (ban é bocor). Langsung saya tuntun lah tu motor ke tempat tambal ban di Jl. Katamso. Masih di jalan Panembahan Senopati yg ada orang2 jualan akik & lukisan, tiba2 ada mas-mas turun ke jalan.

Mas-mas 1 : kenapa e mbak?
Saya : kebanan mas.
Mas-mas 1 : mbaknya lurus aja,  ada bangjo belok kiri. trus ketemu bangjo, nah di deket situ.
Saya : oh iya mas, makasih.

Saya lanjut jalan, baru sampe depan Taman Pintar, mas-mas yg tadi lari dari belakang trus nyamperin.
Mas-mas 1 : mbak, coba mbaknya lurus, setelah shelter TransJogja belok kiri.
Saya : deket toko buku Shopping Center ya mas?
Mas-mas 1 : ya di situ (langsung ngacir).
Saya : makasih banyak ya mas.

Saat sampe di dekat Sopping Center ternyata tambal ban dah tutup. Trus saya tuntun lagi lah tu motor sampe bangjo depan. Begitu lampu ijo saya lanjut tuntun motor sambil sedikit berlari. Begitu sampe depan Vihara Buddha Praba, ada mas2 pake batik ngliatin kami & turun ke jalan.
Mas-mas 2 : mbak pake motor saya aja. Saya bawa motor mbak.
(Saya & temen sempat bengong sebentar) : oh, iya mas. makasih.

Mas-mas 2 tanpa basa-basi langsung lari bawa motorku ke tempat tambal ban & saya naik motor boncengin temen pake motor masnya ngikutin di belakangnya.

Jogja ki sok-sok ming remeh ngene iki, ning nyenengke, yo ra?

Senin, 29 April 2013


SINOPSIS LALITAWISTARA, RIWAYAT HIDUP SIDHARTA GAUTAMA


Lalitawistara merupakan kisah yang menggambarkan riwayat Sang Budha1. Kisah tersebut terpahat  dalam deretan relief-relief di Candi Borobudur yang berjumlah 120.
Di surga Tusita, Sang Bodhisattwa2 mengumumkan bahwa dia akan lahir di alam manusia. Dia pun berkonsultasi dengan para dewa mengenai bentuk inkarnasi yang akan dia ambil nanti. Sementara di kerajaan Kapilawastu, di India, para dewi mengunjungi Ratu Maya, istri Raja Sudhodana yang belum dikaruniai seorang anak. Dialah yang nantinya akan menjadi media inkarnasi3 Sang Bodhisattva ke dalam bentuk Budha.          
Lokasi Lumbini, Nepal
    
Setelah kembalinya para dewi, Sang Bodhisattva pun akhirnya memutuskan untuk turun ke dunia dengan ditemani para dewa. Bersamaan dengan itu pula para Bodhisattva dari sepuluh penjuru mata angin turut serta memberikan penghormatan pada calon Budha.
Bodhisattwa turun ke dunia dan bersemayam dalam rahim Ratu Maya di saat dia sedang tidur. Dalam tidurnya, dia memimpikan seekor gajah putih masuk ke dalam perutnya. Keesokan harinya, Ratu Maya menemui suaminya di taman Asoka untuk menceritakan mimpinya semalam dan meminta penafsiran atas mimpi tersebut.
Para Brahmana menafsirkan mimpi Ratu Maya bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan membawa ajaran besar kepada manusia di muka bumi. Raja Sudhodana pun memberikan hadiah kepada para Brahmana4 sebagai tanda terima kasih. Keesokan harinya, keajaiban-keajan mulai muncul dalam diri Ratu Maya. Yang pertama, dia bisa berada di lebih dari satu tempat dalam satu waktu. Yang kedua, Ratu Maya dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan mengusapkan tangannya pada kepala mereka.
Tiba saatnya Ratu Maya mempersiapkan kelahiran Sang Bodhisattwa. Ia pergi ke taman Lumbini dengan ditemani para pengawal. Di sanalah Sang Bodhisattwa dilahirkan dan diberi nama Sidharta Gautama. Sayangnya, Ratu Maya meninggal tujuh hari setelah kelahiran Sidharta. Kemudian pengasuhan atas Sidharta pun diserahkan kepada tantenya, Mahapapajapati Gautami.
Kelahiran Sidharta

Dalam menjalani masa kecilnya hingga masa dewasa, Sidharta merasakan kejenuhan dengan segala kemewahan dan kenyamanan di dalam istana. Dia pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari istana dan menjalani kehidupan asketisme. Sidharta bertapa di bawah pohon Bodhi selama beberapa bulan. Sepulangnya dari bertapa, Sidharta diminta untuk menikah. Dia mendapatkan undangan sayembara untuk menikahi putri Gopa. Sayembara yang harus diikutinya adalah menyingkirkan mayat gajah yang dibunuh oleh Dewadatta keluar dari batas kota, matematika dan memanah. Sidharta berhasil memenangkan sayembara dan menikahi putri Gopa.
Setelah pernikahannya dengan putri Gopa, Sidharta keluar dari istana tanpa pengawalan dan melihat empat hal yang merupakan Samsara5, yaitu orang tua renta, penyakit, kematian dan petapa. Dia pun tersadar akan hakikat dirinya terlahir di dunia adalah sebagai guru, pembawa ajaran Budha dan memutuskan untuk keluar istana untuk pergi bertapa. Ayahnya tidak setuju dengan keputusan Sidharta dan dia berusaha mencegah kepergian anaknya dengan mengiming-imingi pesta dan perempuan-perempuan cantik. Namun usaha tersebut tidak berhasil, hingga aaat semua penghuni istana tertidur, Sidharta kabur dari istana dengan mengendarai kuda. Di sinilah perjalanan Sidharta menjadi seorang Budha dimulai.
Sidharta menjalani kehidupan asketisme untuk mencapai pencerahan dan pengetahuan tertinggi. Sebelum melakukan pertapaan, ia terlebih dahulu memotong rambutnya hingga gundul dan mengganti pakaiannya dengan jubah. Hal tersebut dianggapnya sebagai Samsara.
Ratu Maya turun ke bumi dan menemui Sidharta yang sedang bertapa di bawah pohon Bodhi. Dia meminta putranya untuk tidak bertapa terlalu keras tanpa makan dan minum karena hal tersebut tidak baik untuk kesehatannya.
Dalam menjalani pertapaanya Sidharta mengalami beberapa godaan, salah satunya dari syetan bernama Mara dan ketiga putrinya; Rati, Arati dan Tresna. Namun hal tersebut tidak menghalanginya menyelesaikan pertapaannya hingga mencapai pencerahan.
Setelah mencapai pencerahan sempurna dan pengetahuan tertinggi, Sidharta pun menjadi seorang Budha dan mulai menyebarkan ajarannya kepada umatnya di muka bumi. Budha mengajarkan kebenaran suci tentang Samsara, bahwa kelahiran, usia, sakit, kematian, berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, tidak berhasil mencapai apa yang kita inginkan adalah penderitaan, serta delapan jalan mulia; pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Buddha berkelana menyebarkan Dharma6 selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun.


1yang tercerahkan, yang memiliki pengetahuan tertinggi
2calon Budha
3penjelmaan, kelahiran
4golongan cendekiawan yang mampu menguasai ajaran, pengetahuan, adat, adab hingga keagamaan
5penderitaan
6hukum atau aturan dalam agama Budha

Jumat, 26 April 2013

YOGYAKARTA, LA VILLE PLEIN D'HISTOIRES


            Yogyakarta est une des provinces en Indonésie. Il se trouve au Sud de Java Central. Le nom de Yogyakarta derive de mots javanais Ngayogya qui veut dire convenable, et Karto  qui signifie travailler.
            La ville de Yogyakarta est un territoire à juridiction speciale. Pourquoi? Parce qu’elle a une composition originale du gouvernement. C-à-d, il y a déjà un système gouvernementale avant que cette ville devienne une partie de l’Indonésie.
           Pour l’histoire plus recent, la naissance de Yogyakarta a commencé d’un grand royaume s’appelle Mataram Islam. C’était en 1750 que Mangkubumi et ses amis (Prince Wijil, P. Krapyak, P. Hadiwijoyo & P. Sambernyawa) a quitté le palais pour faire la guerre. Ils occupent des territoires de Mataram qui étaient gouvernés par l’hollandais. en 1752, Mangkubumi peut reoccuper la plupart de ces territories. Mais, l’hollandais etait inquiet que Mangkubumi va occuper tous les territoires. 


Cimetière des rois Mataram à Kotagede
Étudier à guider avec les guides professionnels


     Yogyakarta est une province fondée par la region de Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dirigé par le sultan qui s’appelle Sri Sultan Hamengku Buwono et Kadipaten Pakualaman qui est dirigé par Sri Paku Alam. Sri Sultan Hamengku Buwono et Sri Paku Alam, ils sont deux chefs inséparables de Yogyakarta. En plus, la trace de la région sont Kasultanan Surakarta Hadiningrat et Praja Mangkunegaran.

Le palais du sultan (Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat)
Le château d’eau Taman Sari



            Comme la frontier, au Nord c’est le Merapi, un volcan qui est encore actif, au Sud c’est l’océan indienne, à l’Ést et à l’Ouest c’est territoire de Central Java. À Yogyakarta, on a 3 fleuves qui traversent la ville; la fleuve Gajah Wong à l’Ést, Codé au milieu de la ville, et Winongo à l’Ouest.

Le volcan Merapi


La rivière Codé, fend la ville de Yogyakarta


            La grande majorité des habitants sont musulmanes.

Ma mère


Femme ancienne et moderne
Si apathique et si énergique
Si violent et si douce
Qui n’a pas une bonne éducation mais qui nous éduque sans arrête.

Kamis, 23 Agustus 2012

Tari Nitis Gendis, Tarian Tradisional Terbaru Banjarnegara

           Tari Nitis Gendis adalah tarian yang menggambarkan kehidupan sebagian besar penduduk di beberapa desa di kecamatan Rakit yang dalam kesehariannya mereka bekerja mencari nafkah dengan cara menyadap Nira/Legén, yaitu sari bunga kelapa yang nantinya dijadikan gula merah. Gula merah merupakan salah satu bumbu pokok yang selalu digunakan sebagai penyedap rasa suatu masakan agar masakan menjadi lebih manis, gurih dan nikmat.
                Pekerjaan menyadap Nira biasa dilakukan oleh laki-laki atau suami. Mereka melakukan pekerjaan tersebut dengan giat dan terampil sebagai perwujudan tanggung jawab mereka dalam menghidupi keluarganya. Menyadap Nira bukanlah pekerjaan yang mudah, selalu ada rintangan dalam melakukannya. Terkadang penyadap dipersulit oleh kondisi pohon yang licin setelah turun hujan. Selain itu angin yang besar dan halilintar pun bisa menghalangi proses penyadapan. Telah ada beberapa penyadap yang jatuh karena rintangan ini yang sampai mengalami cacat seumur hidup bahkan ada pula yang meninggal karena jatuh atau tersambar petir. Namun bagi mereka ini adalah pekerjaan seorang kesatria yang membutuhkan keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar.
                Setelah sang suami selesai menyadap nira maka sang istrilah di rumah yang kemudian mengolah nira tersebut menjadi gula merah. Ia memasak nira menggunakan wajan di atas tungku yang bahan bakarnya kayu. Tidak hanya sang suami yang harus giat dan terampil dalam menyadap nira, sang istri juga dituntut harus giat dan terampil dalam mengolahnya agar hasilnya maksimal.
                 Dari proses penyadapan nira sampai pengolahannnya menjadi gula jawa dapat disimpulkan bahwa tarian ini menggambarkan ketekunan, ketrampilan serta kekompakan dalam suatu keluarga untuk memenuhi kebutuhan bersama.
               Demikian cerita singkat tari Nitis Gendis yang diciptakan oleh grup sholawat bapak-bapak desa Situwangi "Waluyo Jati" dalam rangka mempersiapkan karnaval di kabupaten Banjarnegara.

Jumat, 27 Juli 2012

Tipe Teman menurut Imam Mawardi (Kultum Taraweh Masjid Muttaqien Karangmalang)

Menurut Imam Mawardi ada empat tipe teman :


  1. Man ya'iinu wa yu'iinu, yaiku wong kang seneng tulung lan njaluk tulung karo wong liya (orang yang suka memambantu dan meminta bantuan orang lain).
  2. Man laa yu'iinu wa laa yasta'iinu, yaiku wong kang ora seneng tulung lan njaluk tulung karo wong liya (orang yang tidak suka membantu dan meminta bantuan dari orang lain).
  3. Man laa yu'iinu wa yasta'iinu, yaiku wong kang ora seneng tulung nanging senenge njaluk tulung karo wong liya tok (orang yang tidak suka membantu dan hanya meminta bantuan dari orang lain saja).
  4. Man yu'iinu wa laa yasta'iinu, yaiku wong kang seneng tulung nanging ora seneng njaluk tulung karo wong liya (orang yang suka membantu, namun tidak suka meminta bantuan orang lain).
Diantara keempat tipe teman tersebut, menurut Imam mawardi tipe keempatlah yang paling baik.

Rabu, 25 Juli 2012

Nasi Goreng Beras Merah

Butuh menu sahur yang mudah, sehat dan bergizi? Sajikan saja nasi goreng beras merah sebagai menu sahur Anda. Sedikit berbeda dari nasi goreng lainnya, nasi goreng ini terbuat dari beras merah yang rendah lemak namun tetap menghasilkan energi yang tinggi. Selain itu, nasi goreng ini juga mengandung banyak serat dari sayuran seperti brokoli, timun, tomat, dan juga wortel. 


Bumbu: 

5 gr bawang putih     
10 gr bawang merah      
10 gr kemiri
5 gr cabe                                                                                                                                          


Bahan:                                          

5 gr mentega
50 gr telur (ambil bagian putihnya)   
20 gr dada ayam panggang, potong kecil-kecil       
150 gr nasi beras merah
5 gr daun bawang 
4 gr penyedap rasa 
10 gr kecap manis 
15 gr brokoli 
10 gr timun 
10 gr wortel         
10 gr tomat  


Cara memasak: 


1. Haluskan seluruh bumbu, lalu tumis selama dua menit sampai harum. 
2. Sementara itu, rebus brokoli dan wortel, siram dengan air dingin, sisihkan.       
3. Panaskan mentega, kemudian tambahkan putih telur yang sudah dikocok, masak sampai matang.  
4. Tambahkan bumbu nasi goreng, aduk rata. Masukkan potongan dada ayam dan nasi merah ke dalamnya. Aduk.       
5. Tambahkan daun bawang, tomat, penyedap rasa, sambil diaduk. Masak selama satu menit. Masukkan kecap.    
6. Sajikan dengan tambahan sayuran rebus seperti brokoli, wortel, dan timun.                                  
                                                                                                                                             
Kandungan gizi:

Energi: 393 kkal        
Karbohidrat: 51 gr     
Protein: 20 gr       
Lemak: 12 gr      
Serat: 4 gr